PERBANDINGAN KEARIFAN LOKAL HATTANJOU IWAI PADA MASYARAKAT JEPANG DAN TEDHAK SITEN PADA MASYARAKAT JAWA NIHON NO SHAKAI NI OKERU HATTANJOU IWAI JAWA NO SHAKAI NO TEDHAK SITEN TO NO HIKAKU SKRIPSI Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang Oleh: KARTINI SARY BATUBARA 130708012 Pembimbing Prof. 19580704198410001 PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah S.T yang telah melimpahkan segala karunia dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah keharibaan Rasulallah Muhammad SWA. Tidak sedikit kendala yang penulis hadapi dalam mengerjakan skripsi ini.
Baik dari segi keterbatasan bahan maupun keterbatasan dari diri penulis sendiri dalam menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul Perbandingan Kearifan Lokal Hattanjou Iwai Pada Masyarakat Jepang Dan Tedhak Siten Pada Masyarakat Jawa ini, penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Ucapan terima kasih yang begitu sederhana rasanya tidaklah cukup untuk mengucapkan rasa terima kasih penulis. Namun hanya itulah yang mampu penulis ucapkan.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkanlah penulis mengutarakan rasa terima kasih yang sedalam – dalamnya kepada orang – orang yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini : 1.Sselaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Hamzon Situmorang, MS.D selaku ketua Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Sekaligus sebagia dosen penasehat akademik dan selaku pembimbing I yang dalam kesibukannya sebagai pengajar telah menyediakan waktu dan pikiran dalam membimbing dan mengarahkan skripsi ini. Terima kasih i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama proses penyusunan skripsi ini.
Seluruh dosen – dosen beserta staf pegawai Departemen Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu selama mengikuti perkuliahan sampai penulisan skipsi ini selesai. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Ayah dan Umak tercinta yang telah menjadi motivator untuk penulis, terimakasih atas doa, dukungan moril dan materil selama ini,dan juga terima kasih kepada nenekku, etek dan apak, kakak dan abang sepupuku, kak Ijah, kak Mardiah, kak Marlina, kak Aisah, bang Leman, bang Alwi, bang Ibrahim,bang Abdi dan juga adik-adikku tercinta Ade ismail marzuki, Eva bella andryani, Khoirul Insan Batubara, Devi Yolanda Sari, Hutriyansyah,serta seluruh keluarga yang telah banyak memberikan dorongan, dan juga kedua ponakanku Arsyila Ismail Batubara dan Kayyisa Naila Lubis dukungan moril dan materil, dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk sahabat tercinta, yang jadi teman dan tempat berbagi segala suka cita yang sama berjuang selama ini Ari Adi, Yuni Saputri, Khoiriah Hannum,Helly Sahara, Kiky Sulandari, Uyun Maysyarah, Diana, Yessi, Kartini, Iko, Jonathan terimakasih untuk semua bantuan, dukungan dan dorongan semangatnya selama ini. ii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 6.
Mahasiswa – mahasiswi tahun 2013 yang telah menjalin hubungan silaturahmi dengan baik bersama – sama saling berjuang dalam menimba ilmu. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu – persatu disini, yang telah memberi bantuan sehingga skripsi ini dapat tersusun seperti adanya Penulis sadar bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat memperbaiki kesalahan pada masa mendatang. Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini bermanfaat bagi penulis sendiri khususnya pembaca. Medan, Agustus 2017 Penulis Kartini Sary Batubara NIM : 130708012 iii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.
iv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah .3 Ruang Lingkup Masalah.4 Tinjauan Pustaka Dan KerangkaTeori.5 Tujuan Dan Manfaat Penelitian. 12 BAB II PERFORMANSI HATTANJOU IWAI PADA MASYARAKAT JEPANG DAN TEDHAK SITEN PADA MASYARAKAT JAWA 2.1 Performansi Pelaksanaan Upacara Hattanjou Iwai.1 Tempat Dan Waktu .3 Konteks Ideologi Dan Budaya. 21 iv UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2.2 Performansi Pelaksanaan Upacara Tedhak Siten .1 Tempat Dan Waktu .3 KonteksIdeologi Dan Budaya .3 Perbandingan Performansi pelaksanaan UpacaraHattanjou Iwai Dan Performansi Pelaksanaan Upacara Tedhak Siten Pada Masyarakat Jepang Dan Jawa .1 Persamaan Upacara Hattanjou Iwai Dan Upacara Tedhak Siten .2 Perbedaan Upacara Hattanjou Iwai Dan Upacara Tedhak Siten. 38 BAB III KEARIFAN LOKAL DALAM UPACARA HATTANJOU IWAI PADA MASYARAKAT JEPANG DAN UPACARA TEDHAK SITEN PADA MASYARAKAT JAWA 3.1 Pengertian kearifan Lokal.1 Kearifan Lokal Dalam Upacara Hattanjou Iwai .2 Kearifan Lokal Dalam Upacara Tedhak Siten.
45 v UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 3.3 Perbandingan Kearifan Lokal Hattanjou Iwai Dan Tedhak Siten. 53 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4. 59 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ABSTRAK vi UNIVERSITAS SUMATERA UTARA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk yang berbudaya, karena kebudayaan merupakan pendorong di dalam tingah laku manusia dalam hidupnya. Kebudayaan pun menyimpan nilai-nilai yang menjadi landasan pokok bagi penentu sikap terhadap dunia luar.
Bahkan menjadi dasar setiap tingkah laku yang dilakukan sehubungan dengan pola hidup di masyarakat (Cassirer,1987). Nilai-nilai luhur dari kebudayaan inilah yang telah di wariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya melalui berbagai adat istiadat yang khusus. Berkaitan dengan hal di atas, setiap kelompok masyarakat pada umumnya mempunyai konsep bahwa tiap-tiap individu terbagi dalam tingkatan hidup. Tingkat demi tingkat itu akan dilalui dan akan dialami oleh individu-individu yang bersangkutan di dalam hidupnya.
Pada tiap tingkat hidup itu individu yang bersangkutan di anggap dalam kondisi dan lingkungan tertentu. Karena itu setiap peralihan darisatu tingkat ketingkat lainnya dapat di katakan sebagai peralihan dari satu lingkungan sosial ke lingkungan sosial yang lain. Lingkungan sosial individu mulai terbentuk sejak masih dalam kandungan ibunya hingga akhirnya meninggal dunia. Lingkungan sosial yang harus dilalui dalam perjalanan hidup seseorang meliputi masa dalam rahim atau kandungan ibunya (kehamilan), kelahiran bayi, masa anak-anak, masa remaja, dewasa, tua dan mati (Koentjaraningrat,1985).
Masa peralihan ini 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA pada dasarnya akan dilalui oleh hampir semua manusia yang hidup di dunia, walaupun tidak semua masa peralihan itu sama, karena ada yang hanya melalui masa bayi hingga anak-anak saja kemudian meninggal dan ada pula yang melalui seluruh tahapan peralihan tersebut. Pada berbagai kebudayaan ada anggapan bahwa masa peralihan manusia yaitu peralihan dari satu tingkat kehidupan atau lingkungan sosial ketingkat kehidupan atau lingkungan sosial yang lain merupakan saat-saat penuh bahaya, baik bahaya yang nyata maupun gaib. Oleh karena itu dalam beberapa kebudayaan sering di lakukan suatu upacara daur hidup (life cycle) yang dimaksudkan untuk menghindari bahaya nyata maupun gaib yang mungkin datang. Upacara ini sering di sebut dengan upacara kritis hidup (Crities rites).
Daur hidup dalam masyarakat Jepang disebut Tsuka Girei ( Ritual Perjalanan). Tsuka yang artinya bertahap atau tahapan sedangkan Girei artinya upacara atau perayaan, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian dari Tsuka Girei adalah perayaan-perayaan yang dilakukan secara bertahap mulai dari proses kelahiran sampai menjadi dewa. Daur hidup dalam masyarakat Jepang berhubungan dengan pandangan akan roh orang Jepang, yaitu pandangan tradisional yang dipengaruhi oleh kepercayaan Shinto. Tsuboi, Yobumi dalam Situmorang (2000 : 30) mengatakan adalah suatu kepercayaan dalam kerangka agama Buddha yang disesuaikan dengan kondisi alam Jepang.
Tsuboi menjelaskan pemikiran- pemikiran Yanagita Kunio (1875-1962) yang mengatakan bahwa manusia memiliki roh, dan roh tersebut masuk kedalam tubuh manusia pada waktu 2 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA lahir dan meninggalkan tubuh manusia pada waktu meninggal. Roh itu mengalami proses perjalanan seperti arah jarum jam terbalik. Dalam setiap kondisi, roh tersebut mengalami perubahan. Perubahan tersebut adalah perubahan dari kekotoran menuju kesucian dengan bantuan acara-acara dan persembahan (kuyou).
Proses perjalanan roh manusia tersebut dimulai pada masa kelahiran. Menurut Suzuki dalam Situmorang (2000 : 29) mengatakan bahwa pandangan hidup dan mati orang Jepang berada dalam suatu circle (lingkaran). Manusia semenjak lahir hingga menikah berada dalam posisi tidak tenang, atau berada dalam posisi kekotoran. Oleh karena itu perlu diadakan upacara selamatan (ritus) supaya mereka beroleh selamat.
Upacara-upacara tersebut misalnya, upacara shusshan iwai, okuizume, hattanjou, shichigosan, dan sebagainya. Pada masyarakat Jepang ada ritus hattanjou (ulang tahun pertama). Pada ulang tahun pertama ini diadakan acara untuk meramal masa dsepan si bayi. Di sekeliling bayi disediakan berbagai benda yang berhubungan dengan bidang pekerjaan seperti: mistar, pensil, sempoa dan benda-benda lainnya, maka melalui benda yang terlebih dahulu diraih si bayi diramalkan berhubungan dengan pekerjaan bayi setelah dewasa kelak ( Situmorang, 2013 : 51).
Bayi yang berulang tahun yang pertama tersebut menjadi subjek dalam ritus ini. Ritus ini merupakan perayaan suka cita yang dilaksanakan secara Shinto. Hattanjou juga merupakan ritus faktitif, karna mengharapkan produktifitas yang terbaik bagi anak di masa mendatang. 3 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Di dalam kebudayaan Jawa juga mengenal upacara-upacara daur hidup, yaitu mulai dari upacara masa hamil, upacara kelahiran, upacara perkawinan, hingga upacara kematian (Darori, 2000).
Masyarakat Jawa percaya bahwa rentang waktu lahir hingga mati bagi manusia merupakan saat- saat manakala dunia dan kehidupannya tergelar dan terpapar, oleh karena itu beberapa ritus hidup mesti dilaksanakan. Pelaksanaan upacara-upacara tersebut bagi masyarakat Jawa pada dasarnya untuk memenuhi krenteg dan karep (niat dan kehendak) di dalam tanggapan dunia bahwa pada dasarnya kehidupan manusia itu sakral. Perubahan status seseorang yaitu pertumbuhan kearah kehidupan berikutnya menuju kearah kedewasaan, bagi masyarakat Jawa merupakan serangkaian babak yang rawan untuk di serang atau di rasuki oleh roh-roh jahat. Bagi masyarakat Jawa Kehidupan di bumi dipengaruhi oleh peristiwa- peristiwa gaib dan mahluk halus yang menembus perjalanan sehari-hari manusia, di mana kekuatan mahluk gaib tersebut bisa merusak atau bermanfaat.
Namun yang jelas kekuatan tersebut sangat mempengaruhi kehidupan nyata manusia. Untuk itu di dalam tahapan peralihan manusia di perlukan suatu upacara khusus, agar kekuatan mahluk gaib tersebut tidak mengganggu atau merugikan manusia, namun di harapkan kekuatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi manusia. Masyarakat Jawa meyakini bahwa upacara daur hidup yang mereka lakukan dipenuhi dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang tumbuh secara turun temurun. Nilai-nilai dan norma-norma tersebut di gunakan untuk mencari keseimbangan tatanan kehidupan mereka.
Salah satu upacara yang di 4 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA lakukan oleh masyarakat Jawa ketika memasuki babak baru dalam tingkat kehidupannya adalah upacara yang berkenaan dengan kelahiran seorang anak. Setelah seorang laki-laki dan perempuan melaksanakan pernikahan, seorang anak merupakan dambaan bagi setiap rumah tangga. Karena seorang anak mempunyai nilai-nilai khusus, misalnya nilai ekonomis status sosial, memberi suasana tenteram dalam keluarga membahagiakan orang tua, serta memberikan harapan dimasa mendatang, sebagai payung di mana orang tuanya sudah jompo karena tidak bisa bekerja lagi. Hadirnya seorang anak juga sebagai bukti nyata hasil perkawinan antar kelompok dan sering di anggap sebagai hadiah kehidupan yang jelas dari pihak wanita pada pihak suaminya.
Pengharapan tinggi terhadap seorang anak (terutama anak pertama) merupakan kebahagian tersendiri. Untuk itu setelah anak tersebut lahir selalu ada upacara-upacara yang di lakukan sebagai usaha penjagaan terhadap anak, di antaranya adalah upacara ketika anak pertama kalinya menginjak tanah atau yang sering disebut dengan upacara Tedhak Siten. ( Wiyono, 2008 : 3) Upacara Tedhak Siten adalah suatu acara memperkenalkan anak untuk pertama kalinya pada bumi atau tanah dengan maksud anak tersebut mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupannya kelak. Bagi masyarakat Jawa upacara ini merupakan wujud pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar kelak siap dan sukses dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya (Bratawijaya : 1997).
Selain itu upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi 5 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA sebagai tempat berpijak sekaligus yang telah memberikan banyak hal dalam kehidupan manusia. Di katakan bahwa manusia hidup dan mati berada di bumi, makan minum, rumah, kendaraan semua berasal dari bumi, maka manusia perlu menghormatinya. Sebab dengan cara seperti ini maka manusia akan mendapatkan keselarasan terhadap alam, karena dalam konsep masyarakat Jawa manusia menemukan hidupnya tergantung dari alam dan apabila hidupnya selaras akan memperoleh kebaikan. Jadi dapat dikatakan bahwa upacara Tedhak Siten merupakan peringatan bagi manusia akan pentingnya hidup diatas bumi yang mempunyai hubungan yakni, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Pada dasarnya setiap pelaksanaan upacara di kalangan masyarakat menunjukkan adanya kandungan makna di balik upacara itu sendiri, dimana makna tersebut sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakatnya. Biasanya hal itu diberikan melalui simbol-simbol dalam upacara, lambang atau simbol inilah yang sebenarnya mempunyai nilai cukup penting bagi kehidupan manusia.